Text Widget

Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan

DARI TAQWA INDIVIDU MENUJU TAQWA SOSAL SHAUM RAMADHAN Oleh: Dr.H.Harjani Hefni,Lc,MA

Written By mouzlim on Selasa, 22 Juli 2014 | 20.52


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
( يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ )، (يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) ، ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا)  أَمَّا بَعْدُ :

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah !

Kalimat taqwa yang didefinisikan secara umum oleh ulama dengan ungkapan melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya mejadikan taqwa mencakup segala aspek kebaikan, baik hubungan kita dengan Allah (hablun minallah) maupun hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas).
Amalan-amalan yang terkait dengan hablun minallah seperti berpuasa, tarawih, istighfar, taubat, banyak berdoa, tilawah, dst sangat banyak dikaji dan diamalkan orang. Tetapi taqwa sebenarnya tidak hanya mengajarkan hablun minallah, tetapi juga hablun minannas.  
 Di antara model kebaikan yang hendak dibangun oleh Ramadhan adalah rasa empati terhadap sesama yang kita sebut dalam khutbah ini sebagai taqwa sosial. 
Dalam teori ukhuwah, persaudaraan dan semangat untuk saling mengayomi (takaful) akan terealisasi jika didahului oleh ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan ta’awun (saling membantu). Jika kita  menerapkan teori ini untuk membuktikan tesis bahwa Ramadhan dapat membangun taqwa sosial, maka kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Ramadhan kaya dengan praktek-praktek pemenuhan aspek-aspek teori di atas.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah !

A. Ramadhan mengajarkan kita untuk saling ta’aruf
Allah memerintahkan kaum muslimin agar selalu membuka diri dan banyak melakukan kontak dengan orang. Membuka diri kepada banyak orang memang bukan pekerjaan tanpa resiko, karena dari sini proses saling mempengaruhi bergulir. Kalau kita tidak tanggap,maka boleh jadi membawa petaka, kita bisa terseret dalam perilaku negatif. Karenanya saat memerintahkan ta’aruf dalam ayat 13 Surah al Hujurat, Allah mengarahkan ta’aruf kepada sasaran membangun semangat berlomba-lomba untuk mencapai derajat taqwa.
Semangat taqwa ini tidak mungkin ditemukan dalam komunitas yang tidak kenal Allah, tidak melaksanakan perintah-Nya, dan hanya berlomba-lomba meraih kesenangan sesaat. Tetapi ia ditemukan dalam kelompok masyarakat yang hanif, memiliki kepedulian terhadap perintah Allah, dan tidak senang kemaksiatan merajalela.  
Dalam menjalin ta’aruf ini, Rasulullah mengarahkan kita untuk mencari teman yang baik dan bisa mentransfer kebaikannya kepada kita, bukan sebaliknya. Rasulullah saw bersabda :
 عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً ( رواه مسلم )
“Dari Abi Musa, dari Nabi SAW : Perumpamaan sahabat yang saleh dan sahabat yang tidak baik seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin memberimu minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau minimal kamu mencium aroma harumnya. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membuat bajumu terbakar, atau minimal engkau mencium aroma yang tidak sedap” (HR.Muslim)
            Bahkan dalam hadits yang lain, Rasulullah menyebutkan bahwa teman kita memiliki peran dominan dalam kualitas keberagamaan kita.  
   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
“Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda : Seseorang itu terkait erat dengan agama saudaranya. Hendaklah engkau memperhatikan dengan siapa dia berteman” (HR.Tirmidzi, An Nasa’I, Ahmad)
          Ramadhan secara intensif mengarahkan kita untuk bertemu dengan kelompok masyarakat yang saleh atau yang ingin berubah menjadi saleh. Di antara sarana-sarana ta’aruf di bulan Ramadhan adalah sahur bersama keluarga. Keluarga yang sibuk merasakan saat sahur bersama keluarga adalah sarana untuk lebih saling mengenal dan lebih dekat dengan anggota keluarga.
            Sarana lain adalah buka puasa bersama. Ini bisa dilakukan untuk membangun komunikasi dengan komunitas baru, atau ingin mempererat hubungan dengan komunitas yang sudah ada. Bisa dilakukan di keluarga besar, paguyuban, RT, Masjid, perkantoran, antara guru dengan siswanya, dengan rumah-rumah panti asuhan, panti jompo, narapidana dan sebagainya.
            Salat tarawih adalah juga sarana efektif untuk ta’aruf. Jika pertemuan sholat ini berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, insyaallah akan lebih mendekatkan kita dengan saudara kita yang lain.
            Tadarus bersama, dengan membaca al Qur’an dan mengkaji beberapa maknanya adalah juga sarana ta’aruf yang baik.
            Sedang ta’aruf  yang paling intensif bisa dilakukan pada saat I’tikaf, di mana kita memiliki kesempatan untuk tinggal bersama selama 10 hari di dalam satu masjid, dengan tujuan sama ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah !

 
B. Ramadhan mengajarkan kita untuk saling tafahum

Jika sarana-sarana yang tersedia di atas bisa dimanfaatkan dengan baik, kita akan mengenal lebih dekat saudara kita, baik secara fisik, psikologi, maupun pemikirannya.
Kesalahpahaman sering terjadi akibat tidak tergalinya informasi tentang teman kita secara baik. Padahal dengan pengenalan yang baik itu kita akan terhindar dari larangan allah seperti mudah marah, berburuk sangka, dan membincangkan yang tidak pada tempatnya tentang teman.
Untuk membangun sikap mudah memahami teman, Ramadhan mengajarkan kita agar tidak mudah marah, tidak boleh berburuk sangka dengan orang, dan  tidak boleh ghibah.

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رِوَايَةً قَالَ إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ (رواه مسلم)
“Dari Abu Hurairah RA. Jika kalian berpuasa, hendaklah tidak berkata kotor dan sembrono. Apabila ada orang yang mengumpatnya atau mengajaknya untuk berkelahi, katakanlah : aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR.Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan :

 قَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا   (رواه النسائي )
“Puasa itu adalah benteng, selama tidak ada yang menembusnya”.  Dalam Sunan Ad Darimi disebutkan, yang bisa merusak benteng puasa itu adalah ghibah.
Larangan Allah untuk marah, buruk sangka, dan ghibah ini baru bisa kita lakukan manakala kita telah mengenal saudara kita dengan baik. Dengan demikian, larangan marah ini tidak berdiri sendiri, tetapi didahului dengan saling mengenal secara baik lewat sarana-sarana Ramadhan yang disebut di atas.

Ma’asyiral Muslimin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah !


C.Ramadhan mengajarkan kita untuk saling ta’awun 

            Setelah kita mengenal baik saudara kita, kita akan memahami   kecenderungan jiwa  maupun kondisi ekonomi mereka. Orang yang memahami kondisi saudaranya secara umum lebih mudah untuk membantu daripada orang yang tidak kenal sama sekali.  Sasarannya adalah orang-orang miskin yang terdeteksi dari interaksi mereka yang panjang selama Ramadhan.

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ (أبو داود)
“Dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak pantas, dan untuk memberikan makan buat orang-orang miskin…” (HR.Abu Dawud)
            Selain zakat fithrah, Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita untuk lebih dermawan di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan :

 عن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي شَهْرِ رمضات...(صحيح مسلم)
“Ibnu Abbas berkata : Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan dalam bidang kebajikan, dan kedermawanan beliau meningkat selama bulan Ramadhan”.
           
            Taqwa tidak dapat diraih dengan mengabaikan aspek sosial dan hanya sibuk dengan urusan pribadi. Bukan hanya taqwa yang tidak diraih, bahkan keimanan kitapun menjadi tanda tanya besar, apakah benar kita orang yang beriman, atau kita adalah orang yang hanya mengaku beriman tanpa bukti. Orang yang perlakuannya kasar dengan anak yatim dan tidak peduli dengan orang miskin dikatakan orang yang mendustakan agama. Allah berfirman :

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ(1)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ(2)وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ(3)
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makan orang miskin”. (Al Maa’uun : 1-30 )
            Sebaliknya, orang yang peduli dengan sesama digambarkan secara jelas oleh Allah sebagai salah satu variable meraih taqwa. Allah berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ(133)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yanag menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit…” (QS.Ali Imran : 133-134)
Sedangkan di tempat yang lain, Allah menggandengkan kalimat suka memberi dengan taqwa, sebagai isyarat bahwa dua kalimat adalah kembar siam. Apabila dipisahkan, maka taqwa tidak mungkin diraih.
            Ramadhan adalah bulan motivasi meningkatkan kepedulian sosial, mudah-mudahan kita terpacu meraihnya, karena tanpanya tujuan puasa “La’allakum Tattaqun” tidak akan terealisasi


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

LA’ALLAKUM TATTAQUN Oleh: Dr.Harjani Hefni,Lc,MA


 الله أكبر الله أكبر الله أكبر
 الله أكبر الله أكبر الله أكبر

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوىَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوااللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”


Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. Kalimat tasbih dan tahmid, kita tujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya.

Tidak lupa puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa. Seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.

اللهُ اَكْبَرْ (3×) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Tujuan utama madrasah Ramadhan adalah ‘la’allakum tattaqun’, semoga kita menjadi orang yang bertaqwa. Karena itu, setelah kita menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui ciri-ciri taqwa, agar kita dapat merawatnya jika kita mendapatkannya, atau memohon ampun kepada Allah atas kekurangan kita dalam mewujudkannya.

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Di antara ayat dalam al-Quran yang mengungkap tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah QS. Ali Imran ayat 133-136. Allah swt berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[1], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
136. mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Berdasarkan ayat-ayat di atas, di antara ciri-ciri terpenting orang yang bertaqwa adalah:

A.    Berlomba-lomba meraih maghfirah dan ampunan. 
Orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu sibuk mengevaluasi amalan dirinya dan cepat meminta ampun jika menemukan kekurangan. Orang yang bertaqwa tidak sibuk mencari kesalahan orang lain.

Selama Ramadhan kita dilatih untuk banyak taubat, istighfar, dzikir, doa, dan amalan-amalan yang membuat kita akan diampuni Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا،
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» (رواه البخاري)
‘Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridho Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu” (HR.Bukhari)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» (رواه البخاري)
“Barangsiapa melaksanakan sholat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridho Allah akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR.Bukhari)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
 (رواه البخاري)
“Barangsiapa yang melaksanakan sholat pada malam al-qadar karena iman dan mengharap ridho Allah akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu…”
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ
 فِيهَا؟ قَالَ: " قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعَفُ عَنِّي ". رَوَاهُ أَحْمد وَابْن مَاجَه وَالتِّرْمِذِيّ وَصَححهُ
Aisyah berkata: Wahai Rasul, jika aku mengetahui lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan? Rasul berkata: ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka mengampuni, ampunilah daku.” (HR.Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).

B.     Orang yang bertaqwa adalah orang yang rindu surga.

Orang yang bertaqwa sibuk mempersiapkan diri dengan bekal-bekal yang membuat Allah ridho dan membuatnya layak untuk dimasukkan ke dalam surga.
Selama bulan Ramadhan kita dilatih untuk menyibukkan diri kita dengan melakukan berbagai macam ketaatan yang mendekatkan kita ke surga, seperti sholat, zakat, infaq, sedekah, puasa, membaca al-Quran.
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah adalah:
اللهم! إني أسألك  الجنة، وما قرّب إليها من قول أو عمل، وأعوذ بك من النار، وما قرَّب إليها من قول أو عمل.
‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga dan segala hal yang mendekatkan kepada surge, baik kata maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka dan segala hal yang mendekatkan diriku kepada neraka, baik kata maupun perbuatan.” (HR. Hakim dan Ahmad).

C.     Orang yang bertaqwa adalah orang yang peduli dan memberikan kenyamanan kepada sesama.
Bentuk kepedulian dan kenyamanan yang dihadirkan oleh orang yang bertaqwa adalah:
a.       Gemar berinfaq. Karena gemar, maka mereka tidak hanya berinfaq disaat lapang, bahkan dalam kondisi sulit sekalipun mereka tetap berinfaq. Dengan infaq, orang yang tidak mampu merasa diperhatikan dan hidup nyaman berdampingan dengan orang yang mampu.

b.      Mampu menahan amarah.
Orang yang bertaqwa mampu mengendalikan diri dan tidak mudah disulut emosi di tengah dia mampu melampiaskannya. Mampu menahan diri disaat marah adalah ciri kekuatan pribadi mukmin. Pergaulan yang dibangun di atas pondasi marah dan emosi selalu akan melahirkan kekeruhan dan ketidaknyamanan. Orang akan menajuh dan takut bergaul dengannya. 

c.       Suka memaafkan.
Dalam menjalani kehidupan, gesekan antar pribadi tidak mungkin dielakkan. Ciri orang yang bertakwa adalah memiliki keluasan dada dan memiliki kesiapan untuk memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah kepadanya. Sifat pemaaf membuat orang yang memaafkan akan menjadi lapang dadanya dan yang dimaafkan menjadi lega dan bahagia.

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Orang yang bertaqwa bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah. Mereka juga adalah manusia biasa yang rentan berbuat salah. Tetapi kelebihan orang yang bertaqwa adalah kecepatan mendeteksi kesalahan yang mereka lakukan. Jika mereka melakukan fahisyah, perbuatan keji yang tidak pantas dilakukan, atau mendzalimin diri mereka, mereka tidak betah dalam kekejian itu, mereka gelisah, dan segera ingat Allah dan segera mohon ampunan dari Allah swt.

Selain itu, Orang yang bertaqwa juga tidak akn terus-menerus melakukan kemasiatan, dia sesali perbuatan yang sudah dilakukan, dia berjanji untuk tidak melakukannya kembali, lalu dia ganti dengan amalan-amalan baik.

Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 
Jika kita sudah rindu dengan surga, cepat membaca kesalahan dan memperbaikinya, serta memberikan kenyamanan dalam hubungan sesama manusia, maka taqwa insya Allah dia dapatkan. Tapi kalau kita masih lambat merespon perintah Allah, bahkan berani melanggar aturan Allah, selalu membuat orang lain di sekitarnya khawatir dengan keberadaannya, maka kita harus introspeksi…jangan-jangan kita termasuk orang-orang yang gagal meraih atqwa.
Bagi yang telah mencapainya, mari bersyukur kepada Allah swt ataus taufiq dan hidayah-Nya, dan mari kita merawatnya sehingga nilai taqwa selalu bersemi di dalam hati kita. Bagi yang belum meraihnya…segeralah beristighfar kepada Allah…segeralah bertaubat…karena waktu yang tersedia bagi kita di dunia ini pendek. Semoga istighfar dan taubat kita menjadi langkah awal untuk mengurangi kekurangan-kekurangan yang telah kita lakukan.
Demikian khutbah ied kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan memacu kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan dengan sikap dan prilaku yang Islami. amien. Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ied kita dengan berdo’a:
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.
اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

 




[1] Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

Khutbah Jumat : Keutamaan Surah al Kahfi

Written By mouzlim on Rabu, 27 Maret 2013 | 22.52



Khutbah Jumat : Keutamaan Surah al Kahfi

Oleh: Dr. H. Harjani Hefni,Lc,MA


A.         Keutamaan

Di antara amalan yang diajarkan Nabi Muhammad saw di hari Jumat adalah membaca Surah al-Kahfi. Apa rahasia Surah ini sehingga kita diperintahkan untuk membacanya setiap hari Jumat. Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ».(رواه مسلم)
Dari Abu Darda’, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat di awal Surah al-Kahfi maka akan terlindung dari Dajjal.”
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «من قَرَأَ سُورَة الْكَهْف فِي يَوْم الْجُمُعَة أَضَاء لَهُ النُّور مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ» . رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّعَوَاتِ الْكَبِير  (قال الألباني : الحديث حسن)
Dari Abu Sa’id ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Barangsiapa membaca Surah al-Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan memberikan kepadanya cahaya di antara dua Jumat.” (HR.Al-Baihaqi, Albani mengatakan hadits ini hasan).

B.      Tentang Surah al-Kahfi

Surah al-Kahfi termasuk surah Makkiyyah, satu dari lima surah yang dimulai dengan Alhamdulillah. Empat surah lain yang juga dimulai dengan Alhamdulillah adalah Surah al-Fᾱtihah, al-An’ᾱm, Saba’ dan Fᾱthir.
Dalam Surah al-Kahfi terdapat empat kisah penuh hikmah: Kisah Ashᾱbul Kahfi, Kisah Shᾱhib al-Bustᾱn (pemilik kebun), Kisah Musa dan Khidr, Kisah Dzulqarnain.

C.      Kisah Singkat

1.       Ashabul Kahfi: Cerita tujuh pemuda yang tidak ingin larut dalam kerusakan agama yang terjadi di masyarakat di mana mereka tinggal. Mereka terpaksa lari ke gua dan ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun. Setelah mereka dibangunkan kembali, ternyata negeri mereka sudah beriman semuanya karena perjuangan mereka. Mereka diperlihatkan hasil keteguhan iman mereka. Perubahan harus ada yang memulai dan terkadang memerlukan waktu panjang. Pemuda Kahfi adalah ikon orang-orang yang berusaha untuk terbebas dari fitnah agama.
2.       Shᾱhib al-Jannatain (pemilik dua kebun). Tanpa menyebutkan siapa namanya, tetapi kisah ini cukup dikenal di masyarakat di mana Nabi tinggal dan berdakwah. Pemilik kebun ini diberikan oleh Allah kebun dengan hasil yang melimpah bahkan sampai terucap dari lisannya bahwa kebun yang dimilikinya itu tidak akan habis karena hasil panen yang selalu mellimpah. Tetapi pemilik kebun ini lupa bahwa yang memberinya hasil yang banyak itu adalah Allah. Dia mengingkari hari kiamat, dan menurut dia walaupun kiamat nanti ada dia akan tetap dihormati di hari kiamat dengan banyaknya hartanya tersebut. Allah berikan pelajaran kepadanya dengan gagal panen. Dalam waktu sekejap seluruh buahnya habis. Kisah pemilik kebun adalah ikon orang yang terkena fitnah harta dan lupa hari berbangkit.
3.       Musa dan Khidr: Musa pernah menganggap bahwa dirinya adalah orang yang paling berilmu di muka bumi. Lalu Allah wahyukan kepadanya bahwa ada orang lain yang lebih pintar dan berilmu daripadanya yaitu Khidr. Nabi Musa akhirnya bersusah payah mencari Khidr untuk berguru. Tapi akhirnya dia tidak sabar mengikuti Khidr. Musa adalah ikon ilmuwan yang tidak pernah berhenti belajar.
4.       Dzulqarnain. Dia adalah penguasa yang melanglang buana ke timur dan barat dunia, menyaksikan banyak sekali tingkah polah manusia. Dia adalah raja yang saleh dan banyak membantu orang yang memerlukan. Di antara jasa besarnya adalah membangun benteng kokoh untuk menahan kejahatan Ya’juj dan Ma’juj. Zulqarnain adalah ikon penguasa saleh yang pernah hidup di muka bumi.

D.      Hikmah

Empat kisah di atas memiliki titik kesamaan yaitu mengisahkan tentang fitnah. Ada empat fitnah besar yang bisa membuat manusia binasa: a. Fitnah agama, b. Fitnah harta, c. Fitnah ilmu, d. Fitnah Kekuasaan.
Berapa banyak manusia yang tertipu dengan dunia dan meninggalkan agama. Berapa banyak orang yang terpedaya dengan harta lalu lupa mempersiapkan hari akhirat. Tidak sedikit orang berilmu yang terjebak dalam kesombongan dan tidak mau belajar dari orang lain. Dan betapa banyak orang yang jatuh karena kekuasaan.

E.       Metode Surah al-Kahfi untuk  Keluar dari Fitnah

1.       Fitnah Agama. Agar kita menjadi orang saleh dan bertahan dalam melaksanakan ajaran agama, kita harus banyak berteman dengan orang saleh.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (28)

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

2.       Fitnah harta. Agar selamat dari fitnah harta, kita harus memahami hakikat dunia dan kehidupan.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ
الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (45) الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (46)

45. dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.
         46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh               
          adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.


3.       Fitnah Ilmu. Agar selamat dari fitnah ini kita harus tawadhu, tidak ghurur atau sombong dengan ilmu yang kita miliki. Kesombongan akan membuat kita melecehkan orang lain dan tidak mau belajar dari orang lain.
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69)
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".

4.       Fitnah Kekuasaan. Agar tidak terjebak dengan fitnah kekuasaan, kita memerlukan orang yang meningatkan kita terus tentang keikhlasan niat saat menajdi penguasa dan senantiasa ingat akhirat.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
 يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105) ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا (106)

103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.

F. Penutup

                Karena hari Jumat adalah sebaik-baiknya hari dan hari kiamat juga akan terjadi di hari Jumat, maka menyegarkan ingatan kita di hari Jumat dengan hal-hal yang baik serta mengingatkan diri dengan hal-hal yang membahayakan hidup kita baik di dunia maupun akhirat sangat penting bagi kita. Mudah-mudahan pesan-pesan Surah ini selalu menjadi panduan hidup kita.




[1] Disampaikan di Masjid Kodam Tanjung Pura, 4 Jumadil Ula 1434 H/ 15 Maret 2013.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Living Qur'an Sunnah Institute - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger